Rabu, 30 Oktober 2019

Masa Kecil Simbah di Bumiayu

Semua bentuk kehidupan pasti memiliki cerita didalamnya. Cerita-cerita tersebut dapat dijadikan pelajaran yang dapat kita ambil  hikmahnya. 
Di postingan saya kali ini akan menceritakan tentang kisah masa kecil simbah saya yang unik dan menarik. Saya sering membayangkan masa muda simbah yang sangat epic dan terkesan seperti hikayat kisah lama. Kalu dibayangkan mungkin agak aneh ya karena beda sekali kehidupan zaman dulu dengan sekarang. Jadi, selamat membaca dan mengambil hikmah :)

Simbah saya berasal dari Bumiayu, sebuah kota kecil di kabupaten Brebes. Beliau merupakan anak ke-2 dari 7 bersaudara, terlahir dari pasangan petani sederhana. Tanggal lahir simbah tidak diketahui secara pasti karena zaman dulu kan ga wajib bikin akte kelahiran. Biasanya bayi yang lahir zaman dahulu itu cara mengingat waktu kelahirannya menggunakan penanda sebuah kejadian, misal dibangunnya jembatan, adanya peristiwa alam, atau kejadian sosial seperti kelangkaan pangan dan sandang. Simbah lahir di zaman serba susah, ketika itu tentara Belanda masih bercokol di bumi pertiwi. Bisa dibilang simbah mengalami beberapa alih zaman, yaitu zaman Belanda, Jepang, masa pemberontakan G30S-PKI, orde lama, orde baru dan zaman millenial :D alhamduillah. 

Masa kecil simbah berada pada fase Indonesia di bwah cengkeraman Belanda. Pada masa itu keadaan rakyat pribumi meskipun susah akan tetapi masih bisa hidup tanpa terlalu tercekam karena di Bumiayu sendiri bukanlah medan perang, meski ada markas-markas pejuang dan tentara. Simbah kecil sering membantu berjualan tape singkong keliling kampung bersama kakaknya. Tape itu dibikin sendiri sama mbah buyut saya (ibunya simbah saya). Simbah memiliki perawakan sedang, berkulit sawo matang dan berambut panjang yang lurus, kalo dalam bahasa Jawa penampakan simbah itu disebut "pantes" (ideal, manis). Sementara kakak simbah yang juga perempuan berperawakan kurus, berkulit kuning langsat dan cantik. Kata simbah sih kakaknya ini pernah ditaksir sama tentara tapi dia ga mau :D Penampakan simbah yang paling khas adalah rambut panjangnya yang indah. Hal tersebut juga yang menyeret simbah dalam liku kehidupan yang dramatis.

Jadi, pada zaman Belanda itu nasib setiap pribumi selalu tidak pasti. Tidak adanya hukum yang sebagai payung perlindungan membuat kejahatan tidak bisa dicengkal. Bayangin aja, negeri kalian sedang dijajah tentara asing, terus kalian kemalingan duit dan perhiasan, mau lapor kemana coba? 
Paling tidak seperti itulah yang dialami juga oleh keluarga simbah saya. Di masa itu, pulau Jawa sering menjadi tempat singgah pedagang dari pulau lain. Nah, kebetulan di desa simbah juga ada pedagang yang berasal dari Ambon mampir kesitu. Suatu hari, si pedagang melintas di jalanan dekat rumah simbah, saat itu simbah lagi bermain sama teman-temannya. Si pedagang tiba-tiba terpukau melihat simbah yang "pantes" dengan rambut hitam panjangnya, dia mengamati dimana rumah simbah. Keesokan harinya, si pedagang mampir di rumah simbah. Dia "mojar" (bilang pada orang tua simbah) untuk membawa simbah ikut dengannya ke Ambon, dengan dalih pengen diangkat jadi anaknya. Untungnya saat itu simbah lagi main entah kemana jadi orang tua simbah menolak dengan alasan mau tanya ke simbah dulu, bersedia apa tidak. Nah akhirnya si pedagang tersebut pulang dengan masih menyisakan harapan. Orang tua simbah galau anaknya mau diambil orang, dibawa ke tempat yang sama sekali mereka tidak tahu. 

Beberapa waktu kemudian si pedagang kembali lagi ke desa simbah dan mengunjungi rumahnya, dengan maksud yang sama seperti sebelumnya. Saat itu dia lebih niat lagi usahanya yaitu dengan membawa buah tangan seperti kain, makanan dan minyak rambut. Simbah dan orang tuanya ketakutan, jadi sebelum si pedagang tersebut masuk ke dalam rumah simbah langsung sembunyi. Coba tebak, simbah sembunyi dimana di rumah yang sesempit dan sesederhana rumah "gethek" (anyaman bambu) zaman dulu?
Pedagang tersebut masuk ke rumah dan menanyakan keberadaan simbah. Lagi-lagi orang tua simbah mengelak dan bilang simbah lagi main sama teman-temannya. Si pedagang marah dan mengobrak-abrik rumah simbah. Namuunn,....simbah beneran tidak ditemukan di dalam rumah. Akhirnya si pedagang pergi dengan murka, buah tangannya dibawa lagi dong :D
Setelah pedagang tersebut pergi, keluarlah simbah dari tempat persembunyiannya. Ternyata simbah sembunyi di gulungan "gedek" yang biasa dipakai untuk atap rumah (seperti eternit tapi dari anyaman bambu). Syukur alhamdulillah si pedagang ga kepikiran buat memeriksa gulungan tersebut. Akhirnya simbah dan orang tuanga bisa bernapas dengan lega.

Ilustrasi gulungan gedek bambu

Untuk mengantisipasi diculik sama si pedagang pas simbah lagi di luar rumah, orang tua simbah memotong rambut simbah menjadi pendek :( . Bentuk pencegahan yang paling parah adalah simbah ga boleh sekolah, takut diculik di jalan :( . Simbah masih ingat betul rasa sedih ga diperbolehkan sekolah sama teman-teman, kakak dan adiknya. Kata beliau, karena kesal, beliau suka melemppar dinding rumah pake kerikil sambil nangis. Begitulah masa lalu simbah yang tidak pernah menyentuh bangku sekolah. Bayangin kalo misalnya pas pulang sekolah tiba-tiba ketemu si pedagang dan diculik kan ngeri. Nah, pasca dipotong pendek itu simbah sempat berpapasan dengan si pedagang, waktu itu simbah habis mengambil air pakai gentong di sumur, dari jauh dia sudah melihat si pedagang. Simbah langsung menunduk dan menutupi mukanya dengan rambut dan leher gentong sehingga si pedagang gak ngeh kalo yang lewat dadi bocah yang ingin dibawanya.

Akhirnya hingga sekarang simbah hidup di Bumiayu, tanpa mengenal baca dan tulis. Aku paling suka kisah simbah yang ini karena penuh deg-degan dengerinnya. Sekian kisah simbah saya waktu kecil, di postingan selanjutnya saya akan menceritakan tentang masa remaja dan dewasanya. Terimakasih sudah membaca :)

Kisah masa lalu menjadikan cerminan untuk selalu bijaksana menghadapi segala permasalahan hidup.
Sepira gedhene sengsara yen tinampa among dadi coba