Bagian 1
Hari ini 6 April 2020, kurasa sudah sebulan lebih pasca lock down. Wabah Corona melingkupi seluruh hamparan dunia. Korban bertambah stiap hari, setiap hari juga ada berita pilu tentang jiwa-jiwa yang akhirnya berpulang, ada juga kabar bahagia kesembuhan pasien melawan virus yang bercokol dan memberi energi optimis bagi sebagian manusia. Ya sebagian, karena yang sebagian lagi kurasa agak pesimis karena menyerahkan hidup dan mati sepenuhnya di tangan Tuhan tanpa adanya ikhtiar. Padahal tahapan kewajiban manusia dalam menghadapi kehidupan ini ada 2 yaitu: ikhtiar baru kemudian tawakal. Selalu ada usaha sebelum hasil, dan selalu ada proses mempasrahkan diri sebelum mendengar kenyataan.
Banyak hal berubah semenjak SARS-Cov 2 menyerang, tidak cuma di kota-kota besar, akan tetapi juga masuk ke wilayah kabupaten. Aku tinggal di Yogyakarta, di sebuah kamar kos lantai 3 di tepi jalan. Pada keadaan normal, suara kendaraan seringkali menggangguku 24 jam 7 hari dalam seminggu, belum orang-orang yang ngobrol di atas motor. Oh dude! ngapain coba ngobrol keras-keras di atas motor, bahkan kadang teriak-teriak. Sekarang? jangankan malam hari, siang dan sore pun sudah sangat jarang terdengar bunyi kendaraan, apalagi setelah portal samping kos ditutup. Setiap pagi aku bangun, kemudian duduk di dekat jendela sambil menatap jalanan, rasanya ada yang kurang, terlalu sunyi dan asing. Terkadang aku merasa seperti terdampar di kamar entah berantah saking asingnya. Biasanya jam 6-7 pagi tukang bakpau lewat dengan sirene khasnya, jam 11 giliran mobil tahu bulat, jam 13-14 muncul abang-abang jualan es, 17-18 lewat bakso atau mie ayam, jam 19-23 itu tampil mulai dari bapak tukang sate, wedang ronde sampai aneka rebusan vegetarian. Setalah Covid-19 menyebar, semua itu tidak ada lagi. Hanya sripit-sripit terdengar motor babang ojol saja. Ah ya para babang ojol ini lah menurutku yang paling terdampak adanya lock down karena berlakunya penutupan portal. Bayangkan daerah kosan mahasiswa yang penuh lika-liku, gang-gang yang bercabang, jalan buntu dan wilayah yang nampak mirip-mirip, apa ora mumet jon? kasian sih, kadang aku ga tega kalau mereka minta maaf berkali-kali, meski aku sebenernya sudah menunggu hingga kelaparan ditambah emosi. Kadang karena sudah keburu emosi dengan babang ojol akhirnya jadi aku kasih tip ovo ala kadarnya, itung-itung biar nambah pahala abis dapat dosa kesel-kesel sama orang. Aku yakin di masa sulit seperti ini kebaikan yang sangat sederhana pun terkadang sangat bernilai bagi orang lain. Ga cuma masa sulit sih, di hari-hari biasa pun hal semacam itu pasti berlaku.
Semoga dengan adanya pandemi ini semua menjadi sadar arti "menjaga, menghargai, dan berempati", jangan gara-gara si virus yang tak kasat mata biki kita menyerah, semakin berkeluh-kesah dan melupakan tentang menjadi manusia. Tetap semangat, Corona pasti berlalu.
#Luv-R