Pendahuluan
Beruang
Kutub atau beruang es ( Ursus maritimus
) adalah mamalia besar dalam Familia Ursidae. Beruang kutub termasuk spesies circumpolar yang terdapat di sekitar benua Artik dan termasuk
beruang paling karnivora di antara keluarga beruang. Beruang kutub betina biasanya akan hidup di sepanjang pantai kutub
utara, sementara beruang jantan tinggal di atas bongkahan - bongkahan es yang
terapung - apung di laut sekitar 180 mil jauhnya dari pantai (DeMaster &
Stirling, 1981)
Beruang
kutub bergantung hampir sepenuhnya pada lingkungan laut es laut untuk
kelangsungan hidup mereka sehingga perubahan skala besar di habitatnya akan
berdampak bagi kehidupan mereka (Derocher et al. 2004). Perubahan iklim global
memiliki sebuah ancaman besar terhadap habitat beruang kutub. Peencatatan
tingkat pemanasan global terbaru memprediksi akan terjadi penurunan bongkahan
es secara dramatis dalam selama 50-100 tahun ke depan (Hassol 2004). Laut es
telah menurun drastis selama setengah abad terakhir. Penurunan tambahan akan
terjadi kira-kira 10-50% dari es laut tahunan diperkirakan akan terjadi pada
tahun 2100 (Derocher et al. 2004).
Sementara
semua spesies beruang lain telah menunjukkan kemampuan beradaptasi dalam
menghadapi lingkungan dan lingkungan mereka, beruang kutub sangat
terspesialisasi untuk hidup di lingkungan laut Artik. Beruang kutub tidak dapat
beradaptasi dengan periode iklim yang lebih hangat dari suhu maksimum yang
mampu mereka tolerir. Karena waktu generasi panjang dan kecepatan pemanasan
global yang tinggi, tampaknya tidak mungkin beruang kutub akan dapat
beradaptasi dengan tren pemanasan di kutub utara saat ini. Jika tren iklim yang
memanas terus naik maka beruang kutub mungkin bisa punah dari dalam 100 tahun
ini (Derocher et al. 2004).
Faktor
selain pemanasan global yang berpengaruh dalam keberlangsungan hidup beruang
kutub adalah factor tekanan dari penduduk sekitar arktik seperti masuknya
kontaminan beracun dari industri pertambangan minyak dan perburuan liar.
1.
Deskripsi
A.
Morfologi dan Adaptasi
Beruang
kutub jantan memiliki berat antara 400 - 600 kilogram dan kadang-kadang dapat
mencapai lebih dari 800 kg dengan tinggi mencapai lebih dari 2,5 meter.
Sedangkan Beruang kutub betina hanya separuh dari berat beruang jantan dengan
berat antara 200 - 300 kg dan tinggi sekitar 2 meter. Beruang kutub memiliki
indera penciuman yang sangat tajam. mereka dapat mencium bau bangkai ikan paus
atau anjing laut dari jarak 20 mil.
Beruang kutub adalah perenang yang handal karena dapat berenang sejauh 60 mil
tanpa berhenti. Mereka menggunakan tungkai depannya untuk berenang dan tungkai
belakang sebagai kemudi. Dengan mata dan lubang hidung yang terbuka, mereka
dapat menyelam dengan baik dan mampu bertahan dua menit di dalam air. Saat naik
ke darat, mereka akan mengibaskan tubuhnya hingga air tidak menempel di bulu.
Cakar pada kaki beruang kutub membantu mereka agar tidak terpeleset di es.
Kelenjar minyak pada kulitnya dapat meminyaki bulunya dengan baik sehingga
tahan air dan membuat tubuhnya tetap kering selama berenang.
Pada musim panas di kutub utara terutama pada bulan Mei - Juni, bulu - bulu
beruang yang tebal mulai rontok untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil (
Kolenosky et al. 1992 ).
Beruang
kutub mempunyai rambut putih dan lembut. Rambut beruang kutub bening, alias
tidak berwarna. Warna putih yang terlihat oleh mata kita hanyalah pantulan dari
lingkungannya (salju) yang putih. Beruang kutub memiliki rambut yang
bening berguna untuk kamuflase, dengan tidak berwarnanya rambut beruang kutub,
penyerapan radiasi matahari yang sangat kecil di daerah kutub menjadi sangat
efisien. Dengan rambut yang tidak berwarna, rambut beruang kutub menjadi
bersifat fiber optik, yang artinya radiasi matahari akan langsung diteruskan ke
kulit sehingga sangat mudah diserap kulit ( Lentfer, 1972 ).
Kulit
beruang kutub juga teradaptasi pada kondisi lingkungan yang ekstrim. Dibawah
kulit tersimpan lapisan lemak coklat dengan ketebalan ±10 cm. Lemak yang
berwarna gelap ini akan menangkap radiasi lebih banyak daripada lemak yang
umumnya berwarna putih atau kuning, dan kemudian radiasi tersebut disimpan
hingga akan diubah menjadi energi (panas) oleh metabolisme tubuh beruang kutub
( Lentfer, 1972 ).
B.
Reproduksi
Musim
semi adalah saat beruang kutub mencari pasangan. Aktivitas tertinggi biasanya
terjadi sekitar bulan April. Beruang kutub jantan mencari beruang kutub betina.
Beruang kutub betina biasanya beranak setiap tiga tahun sekali. Pada bulan
Oktober dan November, beruang kutub menggali liang di salju atau tundra. Liang
biasanya terletak di lereng menghadap selatan, angin dari utara menyebabkan
gundukan salju yang sangat besar. Liang digunakan beruang kutub betina untuk
melahirkan anaknya. Beruang kutub biasanya melahirkan bayi kembar. Biasanya
berjumlah 2. Bayi beruang kutub lahir pada bulan November atau Desember.
Bayi-bayi ini akan keluar dari liang untuk pertama kalinya pada bulan Maret atau
April. Mereka akan tetap tinggal bersama induknya selama 28 bulan untuk mempelajari
cara bertahan hidup (Derocher & Stirling, 1995 )
C.
Migrasi
Beruang
kutub melakukan migrasi mengikuti musim dingin dan panas kutub. Beruang kutub
melakukan perjalanan sepanjang tahun dalam rentang jumlah individu tertentu
dalam kelompok. Jumlah anggota kelompok bervariasi antara individu tergantung
pada akses ke makanan, pasangan, dan sarang. Beruang kutub menjalani migrasi
musiman, mengikuti gerakan es. Beberapa beruang lebih memilih untuk tetap
berada di tepi es sepanjang tahun membuat migrasi luas pasang dan surut es. Di
pantai selatan Teluk Hudson, beberapa beruang pindah ke daratan ketika musim
panas dan menyebar kembali di atas es ketika musim dingin. Beruang kutub mampu
bepergian 30 km (19 mil) atau lebih perhari selama beberapa hari. Satu beruang
kutub dilacak bepergian 80 km (50 mil.) Dalam 24 jam. Beruang kutub lain
perjalanan 1.119 km (695 mil) dalam satu tahun (Derocher & Stirling, 1995 )
1.
Distribusi
Beruang
kutub dilaporkan hanya ditemukan di kutub utara pada wilayah 88° lintang utara
pada daerah paparan kontinen es. Kisaran
selatan beruang kutub dibatasi oleh jumlah laut es yang terbentuk di musim
dingin. Beruang kutub melakukan perjalanan di laut es untuk berburu anjing laut
Beruang kutub hidup di seluruh perairan tertutup es dari sirkumpolar Arktik,
dan jangkauan mereka dibatasi oleh batas selatan laut es. Beruang kutub dapat
berburu sepanjang tahun. Namun, di daerah-daerah di mana es laut mencair
sepenuhnya setiap musim panas, beruang kutub terpaksa menghabiskan beberapa
bulan di darat berhibernasi pada cadangan lemak disimpan sampai wilayah mereka
kembali membeku (Garner et al. 1994a ).
Spesies
ini ditemukan di Kanada (Manitoba, Newfoundland, Labrador, Nunavut, Northwest
Territories, Quebec, Wilayah Yukon, Ontario), Greenland / Denmark, Norwegia
(termasuk Svalbard), Federasi Rusia (Eropa Utara Rusia, Siberia, Chukotka,
Sakha (Yakutia ), Krasnoyarsk), Amerika Serikat (Alaska). Juga sesekali
mencapai Islandia (Amstrup et al. 2000b )
A.
Kemampuan Dispersal
Beruang
kutub merupakan hewan circumpolar sehingga persebarannya hanya terbatas pada
wilayah kutub saja. Beruang kutub menempati niche kutub utara karena
memungkinkannya untuk mencari mangsa berupa walrus serta ikan. Sedangkan di
wilayah kutub selatan tidak terdapat walrus yang merupakan mangsa utama beruang
kutub. Beruang kutub memangsa hewan akuatik sebagaimana wilayah kutub utara
yang pada dasarnya merupakan lautan yang membeku sedangkan kutub selatan merupakan
daratan yang membeku (Amstrup et al. 2000b ).
Beruang
kutub merupakan hewan endemisme yang mempunyai pola distribusi terbatas pada
daerah garis 88° lintang utara. Hewan ini tidak mampu berdispersal ke wilayah
lain dikarenakan keterbatasan fungsi fisiologis hewan yaitu sempitnya kisaran
toleransi suhu yang sempit yang memungkinkan hanya dapat bertahan pada kisaran
suhu -37°C (Stirling, 1988). Wilayah lain yang mempunyai kisaran suhu tersebut
adalah kuttub selatan akan tetapi terdapat barrier berupa wilayah diantara
kedua kutub tersebut yang memiliki suhu lebih tinggi yang tidak dapat diatasi
oleh beruang kutub.
Hal
ini sejalan dengan pndapat Darwin yang menyatakan bahwa spesies muncul di
pusat-pusat tunggal dengan keturunan merupakan modifikasi dari spesies yang ada,
dan bahwa jangkauan geografis mereka dibatasi oleh kemampuan mereka untuk
bermigrasi ke lingkungan lain yang cocok (Garner et al. 1994b )
B.
Perubahan Pola Distribusi
Studi evolusi menunjukkan bahwa beruang kutub
berevolusi dari beruang coklat selama zaman es. Beruang kutub tertua ditemukan
fosil tulang rahang yang ditemukan di Svalbard, diperkirakan beruang tersebut
hidup pada sekitar 110.000 sampai 130.000 tahun yang lalu. DNA perbandingan
menunjukkan spesies mungkin telah membagi setidaknya 150.000 tahun yang lalu,
dan mungkin lebih lama. Itu merupakan waktu beruang kutub pertama kali muncul
sebagai spesies penting karena akan merespon perubahan keadaan laut es (Kurten,
1964).
Beberapa
waktu selama periode pertengahan Pleistosen hingga akhir Pleistosen (sekitar
100.000 hingga 250.000 tahun yang lalu), sejumlah beruang coklat (Ursos arctos) yang hidup di wilayah
dengan suhu nonekstrim terisolasi oleh gletser yang terjadi. Banyak yang tewas
di atas es; Namun, mereka tidak semua menghilang. Beberapa selamat karena fakta
bahwa organisme bervariasi (Gould, 1977) yaitu, setiap individu dari beruang
memiliki variasi ketebalan mantel, warna bulu, dll, Beruang yang selamat dari
proses perubahan lingkungan ini akan menyesuaikan dengan lingkungan barunya
berupa gletser yang ekstrim. Hingga terjadi perubahan fisiologis dan morfologi
berupa menumpuknya lapisan lemak, berubahnya warna bulu dan mekanisme
fisiologis lainnya (Kurten 1964).
C.
Potensi Perubahan Distribusi di
masa Depan
Meskipun
diketahui bahwa beruang kutub merupakan spesies yang berasal dari beruang
coklat (Ursos arctos) purba yang
dapat hidup di wilayah nonekstrim permukaan bumi sebelum periode pleistosen dan
sekarang berevolusi menjadi beruang kutub ( Ursus
maritimus ) yang hidup pada wilayah ekstrim dengan berbagai modifikasi
bentuk akibat evolusi, namun untuk potensi proses evolusi berjalan searah tidak
terjadi secara reversibel. Sehingga beruang kutub yang telah tercipta sekarang
tidak akan berubah kembali menjadi seperti beruang coklat purba meskipun terjadi
pemanasan global yang kemungkinan akan mengakibatkan perubahan iklim terutama
iklim di kutub menjadi daerah beriklim nonekstrim. Tetapi terdapat kemungkinan
bahwa spesies Ursus maritimus dapat
berevolusi menjadi spesies lain yang baru jika terdapat anggota Ursus maritimus mampu bertahan dari
perubahan iklim yang mungkin akan terjadi di masa depan dan akan mengolonisasi
wilayah baru yang terbentuk.
Daftar Pustaka
Amstrup, S.C., J.J.
Truett and S.R. Johnson 2000a. Polar
Bear. The natural history of an Arctic oilfield: development and the biota.
Academic Press, Inc. New York. Pp. 133-157
Amstrup, S.C., G.M.
Durner, I. Stirling, N.J. Lunn, and F. Messier. 2000b. Movements and
distribution of polar bears in the Beaufort Sea. Canadian Journal of Zoology.78:948–66
DeMaster,
D.P. and I. Stirling. 1981. Ursus
maritimus. Polar bear. Mammalian
Species 145:1–7
Derocher, A.E. and
I. Stirling. 1995. Temporal variation in reproduction and body mass of polar
bears in Western Hudson Bay. Canadian
Journal of Zoology 73:1657–65.
Derocher, A.E.,
N.J. Lunn, and I. Stirling. 2004. Polar bears in a warming climate. Integrative
and Comparative Biology Canadian Journal
of Zoology 44:163-176.
Garner, G.W., S.C.
Amstrup, I. Stirling, and S.E. Belikov. 1994a. Habitat considerations for polar bears in the North Pacific Rim. Transactions of the North American Wildlife
and Natural Resources Conference 59:111–20
Garner, G.W, S.E.
Belikov, M.S. Stishov, V.G. Barnes Jr., and S.M. Arthur. 1994b. Dispersal
patterns of maternal polar bears from the denning concentration on Wrangel
Island. International Conference on Bear
Research and Management 9:401-410.
Gould, S. J. 1977. Ever
Since Darwin. W. W. Norton. New York.
Hassol, S.J. 2004. Impacts of a warming Arctic. Arctic Climate
Impact Assessment. Cambridge University Press, Cambridge, UK.
Kolenosky, G.B.,
K.F. Abraham, and C.J. Greenwood. 1992.
Polar bears of southern Hudson Bay. Ontario Ministry of Natural Resources.
Canada. Pp. 1984–1988
Kurten,
B. 1964. The evolution of the polar bear, Ursus
maritimus (Phipps). Acta Zoologica
Fennica 108:1-26
Lentfer, J.W. 1972.
Polar bear-sea ice relationships. in
Bears: their biology and management. Morges. Switzerland. Pages 165-171
Stirling,
I. 1988. Polar Bears. University of
Michigan Press. Michigan. USA. Pp. 220
Note : tulisan ini dibuat sebagai tugas term paper mata kuliah biogeografi. Semoga bermanfaat :)