Minggu, 15 Maret 2015

Kunjungan ke Desa Binaan Kalirejo

Jadi ceritanya tanggal 14 Maret 2015 kami ( aku dan teman-teman BEM Biologi UGM -selanjutnya sebut saja pasukan desbin- ) abis berkunjung ke desa binaan kami yaitu Desa Kalirejo di Kulonprogo. Tujuan kunjungan kami adalah menjalin kembali kerjasama yang kami inisiasi tahun lalu, mengobservasi keadaan desa dan menjelajah ke dusun baru. Desa Kalirejo merupakan desa paling barat di Kabupaten Kulonprogo yang mempunyai 9 dusun. Dusun yang pernah kami singgahi adalah dusun Papak dan Sangon. Duluuu kami sempat mengadakan acara hari biodiversitas dan live in di tempat warga.  

Ok, introducenya enough yaa, sekarang ane mau cerita perjalanan suci kami. Yuk disimak :)

Perjalanan dimulai pukul 09.30 waktu setempat, padahal rencana awal yaitu jam 09.00 tapi harap dimaklumi ya sodara-sodara kebanyakan teman-teman pada terinfeksi virus ngaret :v Well, kami berangkat ke arah Monjali, melewati UTY dan seterusnya ( kagak hapal rute, bu.... wkwk ). Yang asyik nih ya guys jalanan menuju Kalirejo itu mendaki bukit melewati lembah :) Daaan yang spesial kami melintasi jalanan seputar Suaka Margasatwa Sermo coy. Udara sejuk bikin adem pikiran dan hijaunya pepohonan sungguh memanjakan mata yang mulai sumpek menatapi panduan praktikum mhuehehe. Pokoknya keren guys, apalagi ane boncengers jadi leluasa menjajaki pemandangan ciptaan Allah yang luar biasa. Ini ada dua potong view yg ane jepret dari atas motor coy.


Akhirnya sekitar pukul 11.00 sampailah kami di depan kantor desa Kalirejo. Keadaan cukup sunyi hanya terdapat beberapa orang ganteng di atas genteng ( baca : masang genteng ). Ini nih suasana pasukan desbin ketika baru sampe di TKP. Muka-muka capek dan laparnya keliatan kan ? hehe 

Daripada terus - menerus menatapi bangunan yang diam membisu, Mbak Miswiti ( baca : Miswati ) selaku ketua pasukan pun mulai menggagas gerakan mencari dusun baru alias "Village hunting". Tak lama berkendara kami menemukan dusun yang belum kami jamah sebelumnya. Dusun tersebut bernama Kalibuko. Nah, berkat petunjuk dari seorang warga, kami dapat bertemu dengan ibu dan bapak kepala dusun Kalibuko 2. 

Jadi ceritanya gini, Dusun Kalibuko itu ada dua yaitu Kalibuko 1 dan Kalibuko 2 dengan garis perbatasan dusun yang rumit. Mata pencaharian utama penduduk adalah petani gula kristal. Dusun ini bahkan sudah mempunyai sanggar gula Kristal yang dikelola oleh Bapak Suparno, sayangnya kami tak sempat bertemu dengan beliau. Selain bermatapencaharian sebagai petani gula kristal, beberapa warga juga ada yang beternak ayam dan berkebun. Ada juga petani kakao  ( Theobroma cacao ) namun  kakao di dusun ini sering gagal panen karena ada sejenis hama yang menyebabkan isi kakao menjadi keras dan cepat busuk. Jadi warga yang mempunyai pohon-pohon kakao ini membiarkan tanamannya tumbuh tak terurus karena hasil kakaonya yang tidak bagus. Padahal dalam satu kebun terdapat banyak pohon kakao. Sementara petani gula kristal selama ini belum ada keluhan mengenai adanya hama yang menyerang tanaman kelapa mereka. 
Ini foto pas kami lagi bercuap-cuap bareng pak kadus ( duh lupa nama aslinya hehe, maapkeun )

Kami diajak bapak dan ibu kadus serta dua buah hati mereka yang unyu-unyu keliling kebun kepunyaan beliau. Disini kami melihat memang sebagian besar buah kakao menghitam pertanda sudah terinfeksi hama. Kebunnya luas banget guys, bertingkat-tingkat gitu, jadi kangen kebun di rumah :( hikz. Btw sayang banget guys, padahal banyak loh pohonnya dan ane pikir itu bisa menjadi komoditas yang menguntungkan bila si hama bisa ditangani. Oleh karena itu kami berinisiatif mengambil sampel beberapa kakao yang diduga sudah terinfksi hama tersebut untuk ditanyakan sama dosen. Ini buat sobat yang pengin tau penampakan kakao yang terinfeksi.
Serem guys, kayak kena cacar ieuwh :O

Siang mulai menjelang setelah kami berkelana di sekitar kebun kakao pak kadus dan langit makin gelap pertanda rintik hujan yang sebentar lagi turun. Akhirnya kami berpamitan kembali ke Jogja istimewa. Daaan dalam perjalanan pulang kami mampir ke Waduk Sermo dan Kalibiru. Ceritanya di postingan selanjutnya aja yaak hehe.
Ohya di tepi jalan pas pulang ane sempet liat warung yang jualan gula kristal itu guys, ini nih buktinya.


Jadi ini kunjungan perdana BEM Biologi ke desa binaan kami di Kalirejo. Untuk selanjutnya semoga bisa berkelanjutan dan bermanfaat baik bagi kami mahasiswa yang sedang dilanda praktikum maupun desa Kalirejo  :) 

Senin, 09 Maret 2015

Pagi di Km. 0

Jadi ini sebenernya latepost banget, tapi gak apalah ya kan postingan macem ginian gak ada exp datenya haha. Ceritanya aku sama temen kosku ( sebut saja dia Rani ) pengen menikmati suasana pagi di Km. 0. Akhirnya berbekal motor pinjeman temen kos yang lain ( sebut saja dia Tya ) kamipun meluncur ke Km. 0 sekitar jam setengah 7. Ya gak pagi-pagi amat siih tapi cukup pagilah untuk seukuran pagi di hari liburnya anak kos wkwk. Nah ini beberapa foto yang kami ambil.    

                                                             Gedung BNI Yogyakarta
                                                     Photo by me,  Model by Rani
 
                                                         Monumen Batik Yogyakarta
                                                     Photo by Rani, Model by me

Nah ternyata hari itu adalah hari Kanker Anak, jadi ada sekelompok orang yang peduli dengan anak-anak Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan apa gitu namanya lupa hehe yang sekrenya ada di RS. dr. Margono Yogyakarta. Ini kami foto bareng maskot unyu mereka :)

Oke fine aku lagi pura-pura pendek ya gaess jadi terlihat pendek (-_-) ehehe.
Yah itulah sekelumit perjalan kami di Sunday morning. Minggu pagi - bebas polusi haha
oya FYI : beberapa ruas jalan di Yogyakarta ditutup pada Minggu pagi, karena emang diniatkan sebagai waktu bebas kendaran bermotor...yeeayy hidup pesepeda ( hihi )

Tak lupa kami selfie duluuu :)


Nah, ini yang punya blog permisi nongol yahh...
Buat para cowok silakan terpesonaah ( hueekk )
                                                       Photo by Rani, Model by me

Persebaran Wilayah Fauna Indonesia

Jenis-jenis dan persebaran hewan yang ada di Indonesia mempunyai kaitan dengan sejarah terbentuknya kepulauan Indonesia. Indonesia bagian barat, yang meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya pernah menjadi satu dengan Benua Asia. Indonesia bagian timur, Papua, dan pulau-pulau di sekitarnya pernah menjadi satu dengan Benua Australia. Indonesia bagian tengah, Pulau Sulawesi bersama pulau di sekitarnya, Kepulauan Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku, merupakan wilayah yang tidak termasuk Benua Asia maupun Australia.
Berikut ini pembagian persebaran fauna di Indonesia :
1.      Pembagian Fauna Menurut Wallace (1910) 
Pada tahun 1910 Wallace dengan mempertimbangkan keunggulan bentuk fauna Asia di Sulawesi, menyimpulkan bahwa fauna Sulawesi tampak demikian khas, sehingga Wallace menduga bahwa Sulawesi dahulu pernah bersambung dengan Benua Asia maupun Benua Australia. Wallace membuat garis yang ditarik dari sebelah timur Filipina, melalui Selat Makassar dan antara Bali dan Lombok yang dikenal dengan Garis Wallace dengan kemudian Wallace menggeser garis yang telah ditetapkan sebelumnya ke sebelah timur Sulawesi (Wallace, 1910). Sulawesi merupakan daerah peralihan antara fauna Asia dengan fauna Australia.
Wallace mengelompokkan jenis fauna di Indonesia menjadi tiga, yaitu:
a. Fauna Asiatis (Tipe Asia), menempati bagian barat Indonesia sampai Selat Makassar dan Selat Lombok.
b. Fauna tipe Australia, menempati bagian timur Indonesia meliputi Papua dan pulau-pulau di sekitarnya. Di daerah ini tidak didapatkan jenis kera, binatang menyusuinya kecil-kecil dan jumlahnya tidak banyak. Hewan-hewan di Indonesia bagian timur mirip dengan hewan Australia.

c. Fauna peralihan, menempati di antara Indonesia timur dan Indonesia barat, misalnya di Sulawesi terdapat kera (fauna Asiatis) dan terdapat kuskus (fauna Australia). Di samping itu terdapat hewan yang tidak didapatkan baik tipe Asiatis maupun tipe Australia.

2.      Pembagian Fauna Menurut Weber
Banyak ahli yang melakukan telaah tentang persebaran jenis hewan di Indonesia dengan membuat garis batas yang berbeda-beda. Salah satu ahli adalah Weber, ia menentukan batas dengan imbangan perbandingan hewan Asia dan Australia 50 : 50. Weber menggunakan burung dan hewan menyusui sebagai dasar analisisnya, tetapi tidak setiap binatang yang dijadikan dasar memiliki garis batas yang sama. Contohnya, hewan melata dan kupu-kupu Asia menembus lebih jauh ke arah timur daripada burung dan siput.
Garis batas antara Indonesia bagian barat dengan bagian tengah disebut garis Wallace dan garis batas antara Indonesia bagian timur dengan bagian tengah disebut garis Weber. 

Peta Persebaran Fauna di Indonesia


3.      Pembagian Fauna Menurut Lydekker 
Ahli lain, yaitu Lydekker, menentukan batas barat fauna Australia dengan menggunakan garis kontur dan mengikuti kedalaman laut antara 180 – 200 meter, sekitar Paparan Sahul dan Paparan Sunda. Hal ini sama dengan Wallace yang menentukan batas timur fauna Asia.
Adanya perbedaan fauna antara wilayah Indonesia bagian barat dan timur karena kedua wilayah itu terpisah oleh perairan yang cukup luas dan dalam, dan kedalaman lautnya lebih dari 1000 meter. Laut yang dalam tersebut sebagai pemisah antara kedua wilayah, sehingga fauna pada masing-masing wilayah berkembang sendiri-sendiri.
      
      Dari berbagai sumber


PENGUMPULAN DATA

Pengertian metode pengumpulan data menurut ahli adalah suatu pernyataan (statement) tentang keadaan, kegiatan tertentu dan sejenisnya yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian (Gulo, 2002 : 110).
Ada dua sumber data dan metode pengumpulan data antara lain :
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya.Data   dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan.
Data primer dapat diperoleh melalui :
·         Wawancara, Observasi, Tes
·         Kuesioner (Daftar Pertanyaan)
·         Pengukuran Fisik
·         Percobaan Laboratorium
2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.Data ini dapat ditemukan dengan cepat.Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan.
Data sekunder adalah yang diperoleh dari sumber kedua dapat berupa dokumentasi lembaga. Contoh lembaga sumber data sekunder :
·         Biro Pusat Statistik (BPS)
·         Rumah sakit
·         Lembaga atau institusi
Instrumen pengumpul data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.  Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, camera photo dan lainnya (Sugiyono, 2009 : 137).
Pengumpulan data juga dapat dimaknai sebagai kegiatan peneliti dalam upaya mengumpulkan sejumlah data lapangan yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (untuk penelitian kualitatif), atau menguji hipotesis (untuk penelitian kuantitatif). Dalam proses penelitian, pengumpulan data sangat penting. Tanpa data lapangan, proses analisis data dan kesimpulan hasil penelitian, tidak dapat dilaksanakan (Akhadiah, 1988)

A.    Jenis Data
Jenis Data terbagi menjadi dua, yaitu :
1.      Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka.Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.
2.      Data Kuantitatif
      Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan.Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika.
      Berdasarkan proses atau cara untuk mendapatkannya, data kuantitatif dapat dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu sebagai berikut:
·         Data diskrit 
·         Data kontinum 
Sedangkan, berdasarkan tipe skala pengukuran yang digunakan, data kuantitatif dapat dikelompokan dalam empat jenis (tingkatan) yang memiliki sifat berbeda yaitu:
·         Data nominal 
·         Data ordinal 
·         Data Interval 
·         Data rasio 
(Suryana, 2010 : 4).

B.     Metode Pengumpulan Data
1.        Kuisioner
Menurut Haryanto (2013 : 37), Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden. Jawaban responden atas semua pertanyaan dalam kuesioner kemudian dicatat atau direkam. Prinsip penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara lain :
·         Isi dan tujuan pertanyaan, artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
·         Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden.
·         Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika terbuka artinya jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika pernyataan tertutup maka responden hanya diminta untuk memilih jawaban yang disediakan.
Teknik pengumpulan data melalui kuesioner cukup sulit dilakukan jika respondennya cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah (Sekaran, 2006).
2.        Observasi
Pengamatan melibatkan semua indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pembau, perasa).Pencatatan hasil dapat dilakukan dengan bantuan alat rekam elektronik.Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar. Ada dua cara metode observasi yaitu :
·         Participant Observation
Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data.Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.
·         Non participant Observation
Berlawanan dengan participant Observation, Non Participant merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati. Misalnya penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai data penelitian.Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa tersebut (Sekaran, 2006).
3.        Wawancara
Pengambilan data secara lisan langsung dengan sumber datanya, baik melalui tatap muka atau lewat telephone, teleconference. Jawaban responden direkam dan dirangkum sendiri oleh peneliti.Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
a.       Wawancara terstruktur
Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
b.      Wawancara tidak terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.
Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada  jumlah responden yang terlalu besar, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif) (Sekaran, 2006).
Pengambilan data melalui wawancara /secara lisan langsung dengan sumberdatanya, baik melalui tatap muka atau lewat telephone, teleconference. Jawaban responden direkam dan dirangkum sendiri oleh peneliti (Haryanto, 2013:37).
4.        Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barangbarang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti laporan keuangan perusahaan serta dokumen lain dalam perusahaan yang relevan dengan kepentingan penelitian (Sukardi, 2003 : 78).
Dokumentasi merupakan pengambilan data melalui dokumen tertulis mamupun elektronik dari lembaga/institusi. Dokumen diperlukan untuk mendukung kelengkapan data yang lain. (Sekaran, 2006).

C.    Etika dalam Pengumpulan Data
Beberapa etika yang harus diperhatikan ketika mengumpulkan data antara lain :
·         Memperlakukan informasi yang diberikan responden dengan memegang prinsip kerahasiaan dan menjaga pribadi responden merupakan salah satu tanggung jawab peneliti.
·         Peneliti tidak boleh mengemukakan hal yang tidak benar mengenai sifat penelitian kepada subjek. Dengan demikian, peneliti harus menyampaikan tujuan dari penelitian kepada subjek dengan jelas.
·         Informasi pribadi atau yang terlihat mencampuri sebaiknya tidak ditanyakan, dan jika hal tersebut mutlak diperlukan untuk penelitian, maka penyampaiannya harus diungkapkan dengan kepekaan yang tinggi kepada responden, dan memberikan alasan spesifik mengapa informasi tersebut dibutuhkan untuk kepentingan penelitian.
·         Apapun sifat metode pengumpulan data, harga diri dan kehormatan subjek tidak boleh dilanggar
·         Tidak boleh ada paksaan kepada orang untuk merespon survei dan responden yang tidak mau berpartisipasi tetap harus dihormati.
·         Dalam studi laboratorium subjek harus diberitahukan sepenuhnya mengenai alasan eksperimen setelah mereka berpartisipasi dalam studi.
·         Subjek tidak boleh dihadapkan pada situasi yang mengancam mereka, baik secara fisik maupun mental.
·         Tidak boleh ada penyampaian yang salah atau distorsi dalam melaporkan data yang dikumpulkan selama studi.
(Sekaran, 2006)
DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, 1988.Pembianaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.Jakarta : Penerbit Erlangga. h. 25.
Gulo, W. 2002. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Grasindo. Hurlock, E. B. h.110. 
Haryanto, S. 2013. Belajar ilmu psikologi dan bimbingan konseling : Metode Pengumpulan Data. Bali : PT Kayumas Agung. h. 37
Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta : Salemba Empat
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, Cet. Ke 8, h. 137.
Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan, Yogyakarta: Bumi Aksara. h. 78.

Suryana, C. 2010. Data dan Jenis Data Penelitian, Sumedang : PT. Grasindo. h. 4.