Holla Viviciers ( Vivicious readers maksudnye :) )
Kali ini aku mau posting sebuah cerpen ya gaje sih tapi lumayan lah hehe. Ini cerpen sebenernya udah lama nangkring di folder bingung mau diapain jadi aku share aja deh disini..okee selamat menikmati :)
Mereka melangkah menuju pohon
itu, Allan yang dari tadi bingung karena tidak mengenal Sadira mencolek tangan
Genis, “Siapa dia? Kenapa sangat mirip dengan Sika?” tanyanya sambil melirik ke
arah Sadira. “Nanti kujelaskan,”katanya cuek. Sebelum mengetuk batang pohon itu
Sika menoleh dan menatap Sadira, di hatinya ada rasa haru akan berpisah dengan
sang nenek. “Cepat pergilah, orang tua kalian sudah cemas menunggu.” Kata
Sadira. Mereka pun mengetuk batang pohon itu tiga kali dan ajaibnya mereka langsung
mendapati diri mereka tertidur di depan rumah tua itu. “Eh, kita ketiduran ya,”
kata Allan sambil mengucek-ucek mata. “waduh iya nih, kok sudah pagi sih?
Haah!! Kita menginap disini semalam,” jerit Vinn kaget. “Ayo pulang,” ajak
Sika. Mereka pun pulang tanpa mengingat secuil pun peristiwa di Argarina.
Kali ini aku mau posting sebuah cerpen ya gaje sih tapi lumayan lah hehe. Ini cerpen sebenernya udah lama nangkring di folder bingung mau diapain jadi aku share aja deh disini..okee selamat menikmati :)
AN NISAN DI ARGARINA
Pukul 12.30
WIB, waktu istirahat siang di SMA Bhineka Tunggal Ika ( Bhituka ).
Sika, Vinn, Genis, dan Allan sedang
duduk manis di bangku panjang taman sekolah yang mereka klaim sebagai
markas besar mereka. Ya, mereka memang
empat sekawan yang menamai kelompok mereka ”An Nisan” ( bukan batu nisan, bukan
pula karena tampang mereka mirip kuburan). Nama tersebut diambil dari nama
belakang mereka : Sika, Vinn, Genis, Allan.
Siang itu keadaan anggota An
Nisan sangat memprihatinkan. Betapa tidak...! Sika : sedang duduk tegak sambil
hidungnya mencium-cium udara seperti sedang mencium aroma masakan yang maha
lezat, Vinn yang berambut kribo dan selalu memaksa teman-temannya untuk
memanggilnya “Krines” ( KRIbo bikiN gemEs ) : sedang memain-mainkan rambutnya
yang kritis ( kriting abis ) alias kribo, Genis yang badannya seperti rumus
persegi panjang ( panjang x lebar ) ya, Genis memang berbadan subur pas dengan
namanya GEndut tapi maNIS : sedang melamun sambil memakan lolipop-nya, dan
Allan yang satu-satunya anggota laki-laki di An Nisan : sedang mengaca di
pecahan cermin mengagumi wajahnya, Allan memang mengaku setampan Sarukhan walau
faktanya tampangnya lebih mirip serokan. Hingga akhirnya Sika yang keadaannya
kembali normal ( tidak menciun-cium udara lagi ) menyadari tingkah aneh
teman-temannya, dia berteriak “wooo...!!” dengan suara TOA khasnya. Sontak
teman-temannya terkejut. “Eh kamu,kalau pengin ikut kontes suara dahsyat jangan
disini dong, di hutan Afrika saja sana, biar dimangsa Singa sekalian !” bentak
Allan yang kaget hingga kacanya jatuh dan pecah berkeping-keping. “Iya tuh Sika!
Ngapain sih teriak-teriak gitu, jantungku terasa hampir melayang tahu !” gerutu
Vinn. Sementara teman-temannya menggerutu gak jelas, Sika hanya senyum-senyum
dan berkedip-kedip sok manis. “Lha aku kan hanya pengin nyadarin kalian, habis
kalian tuh kayak itik penyakitan semua sih,” kata Sika membela diri.
“Sudah-sudah, ngapain sih kok malah jadi ribut? Mending nih makan lolipop merk
“Lipenliabbe” dijamin deh kalian semua pada ketagihan nikmatnya,” Genis melerai
sambil membagikan lolipop pada teman-temannya. “Uh, dasar Mrs. Lolipop, tapi
kamu baik juga ya Nis,” kata Allan setengah memuji. “Huh gombal,” gerutu Genis.
Allan hanya meringis. Mereka pun menikmati lolipop sambil berdecadecap lebay.
“Eh teman-teman, besok kan
holiday, hang out yuk!,” ajak Sika. “Kemana?” tanya Allan. “Gimana kalau ke TMP
Melati saja?” usul Sika. Semua temannya mengerutkan kening kebingungan. “Eh
kamu, sejak kapan punya jiwa patriotisme setinggi gunung gitu? Perasaan upacara
bendera saja jarang ikut, eh sekarang ngajak ke Taman Makam Pahlawan?” ejek
Vinn. “Ih kamusok tahu banget sih ! bukan ke Taman Makam Pahlawan kok, tapi
Taman Mandala Pesona,”jelas Sika sambil menggerutu. “Ooo gitu..hehe maaf deh,”
ujar Vinn sambil tersenyum seakan tak berdosa. Allan yang merasa tertarik
langsung menanggapi, “lho aku kok baru dengar ya kalau ada tempat bernama TMP
Melati ? memangnya tempat apaan tuh?“. “Iya, memangnya kamu dapat informasi
darimana Ka?” timpal Genis penasaran. “Hohoho..terbukti sekarang, ternyata
kalin katro semua ! TMP Melati memang baru saja dibuka guys..! letaknya di Jl.
Kamboja No.13, nah, disitu gak hanya berupa taman yang beautipull tapi juga ada
kolam renangnya, friends..” Sika menjelaskan dengan gaya sales tukang ngejek.
“Lho di jalan Kamboja letaknya? Gak strategis banget sih, tempat sunyi sepi
gitu malah dibangun tempat wisata, dekat hutan Aldasair lagi, huh ! gak berjiwa
bisnis banget yang punya,”cerocos Allan setengah memprotes. “Iya, memang benar
si Allan, tapi aku penasaran dengan tempat itu, sepertinya menarik,” timpal
Vinn. “Iya iya..biasanya kan tempat wisata baru suka prosmosi tuh, jadi
kayaknya pas buat liburan anak sekolah yang berkantong tipis kayak kita ini,”
kata Genis. “Bagaimana kalau besok kita kesana?” usul Sika. “Ok..setuju!”
teriak ketiga temannya. Sika tersenyum puas karena usulnya disetujui. “Ya
sudah, besok kita kumpul di rumahku jam 08.00 WIT ( Waktu Indonesia Tetap ) ya,
yang telat ditinggal saja, gimana? Setuju?”kata Sika. “Yeah setuju lah !” kata
yang lainnya kompak. “Tuulalalalilalilalilut !” tiba-tiba terdengar bell
berbunyi tanda jam istirahat sudah berakhir. Anggota An Nisan pun berlari
sekuat tenaga menuju kelas mereka yang kebetulan sama, kelas X.1.
Minggu, 13 Februari 2011 pukul
08.00 WIT
Mereka
pergi ke TMP Melati dengan naik sepeda.Setelah merasa puas refreshing di TMP
Melata, mereka berniat pulang. “Eh Krines, pulang yuk, sudah sore nih,” ajak
Genis. “ya, kita pulang,”sahut Vinn. “Lewat jalan pintas saja yuk,”ajak Sika.
“Maksudmu lewt jalan kecil di pinggir hutan Aldasair?”kata Allan. “Oh, no !”
gak deh, aku gak berani lewt situ, angker tahu !”timpal Genis ketakutan. Vinn
mendengus kesal, “dasar penakut! Aku setuju lewat situ, bisa menghemat waktu
dan tenaga, nah, kalau kau setuju tidak?” tanya Vinn sambil menunjuk Allan.
“Aku setuju,”jawab Allan sambil mengangguk-anggukan kepala. “Ok, berdasarkan
suara terbanyak, kita lewat jalan pintas,”kata Sika sambil melirik Genis.
Mereka akhirnya lewat jalan pintas tersebut meski Genis tampak ogah-ogahan.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba
hujan turun deras, mereka mempercepat laju sepedanya. Tetapi sebuah papan
peringatan melintang di tengah jalan. “JALAN BUNTU, WILAYAH BERBAHAYA, SEDANG
ADA PERBAIKAN,” demikian bunyi papan tersebut. Mereka heran karena tidak tahu
perbaikan apa yang sedang dilakukan. “Lho apa maksudnya nih? Bukannya tidak ada
bangunan ya? Kalaupun ada perbaikan kenapa jalan ini sepi banget ya?” kata
Allan.”Iya yah, kok aneh banget, gimana nih mau dilanjutkan lewat jalan ini apa
kita balik lagi? Tapi sudah kepalang jauh nih,”keluh Sika. “Ya sudah, mending
kita lanjut saja deh, benar kan Lan?,”kata Vinn sambil menoleh ke arah Allan.
“Ya, benar, kita lanjut,”jawabnya. Mereka pun melanjutkan perjalanannya.
Mereka terus bersepeda walaupun
hujan turun semakin deras. Tak berapa lama, mereka melihat sebuah rumah tua
yang kelihatannya sudah ditinggalkan penghuninya berpuluh-puluh tahun yang
lalu. Karena hujan semakin deras, mereka memutuskan untunk berteduh di bawah
atap rumah tersebut. “Eh, rumah ini pasti dulunya milik bangsawan ya?” celetuk
Vinn. “Ia, aku jadi penasaran seperti apa didalamnnya,” timpal Allan sambil
melangkah mendekati pintu rumah, ketika tangannya menyentuh engsel pintu
tiba-tiba pintu ambruk ke lantai. Mereka kaget. Allan tampak semakin penasaran,
ia mulai memasuki rumah tersebut. “Hei teman-teman ! kalian tunggu saja di
luar, jangan ikut masuk !” teriaknya. “Allan ! ngapain kamu kedalam? Cepat
keluar! Siapa tahu rumah ini berbahaya!” teriak Genis. Namun teriakannya
diabaikan oleh Allan.
Seperempat jam kemudian
Karena Allan tidak kunjung
keluar-keluar, teman-temannya khawatir. “Hei, Allan! Cepat keluar! Sudah hampir
maghrib nih!” teriak Sika dengan suara TOA yang diperbesar 10 kali. Namun tidak
ada jawaban dari Allan. “Eh, girls, kita susul Allan kedalam yuk,” ajak Vinn.
“Eh, Krines, ngapain sih masuk kedalam, nanti juga dia pasti keluar,”kata Genis
ngeri. Tetapi karena didesak oleh rasa khawatir, mereka akhirnya masuk kedalam
rumah tersebut.
Begitu masuk kedalam, atmosfir
mencekam langsung menyelimuti mereka. Bau apak, lembap, dan kayu lapuk Namun
tetap tak terdengar jawaban. Setelah memeriksa seluruh ruangan tersebut,
pandangan mereka membentur ke sebuah pintu berukir yang terlihat lapuk. Tangan
Vinn maju untuk membuka pintu tersebut. Klik! Pintu berhasil terbuka, tetapi
ruangan didalamnya hanya berupa ruang kosong dan sebuah pintu yang sama dengan
pintu tadi. “Huh! Ada pintu lagi nih! Lihat apa yang kita temukan dibalik pintu
ini,”kata Sika. Genis hanya tersenyum kecut, sedari tadi perasaannya tidak
enak, dia merasakan firasat buruk dan firasatnya tidak pernah meleset!.
Sika membuka pintu tersebut.
Lagi-lagi mereka hanya mendapati ruang kosong dan pintu yang sama. Karena
penasaran mereka terus memasuki pintu demi pintu tersebut. Hingga pada pintu
kesebelas mereka terkejut setengah mati melihat pemandangan di depannya.
Ya, dibalik pintu kesebelas itu
terdapat sebuah dataran yang sangat luas seperti padang pasir berwarna orange,
namun matahari bersinar redup juga terdapat bebatuan berwarna putih mengkilat.
Pemandangan itu dirasa sangat ganjil oleh mereka. Bagaimana tidak? Di dalam
rumah tua terdapat padang pasir yang tampak kering padahal bukankah tadi hujan
lebat?” pikir mereka.
Kening Vinn berkerut, “Eng,
tempat apa nih?”gumamnya bingung. “Mana aku tahu? Sahut Sika, tetapi kita harus
menyusuri tempat ini, siapa tahu Allan ada disini,”lanjut Sika tegas. Setelah
seratus langkah berjalan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sosok wanita cantik
berambut panjang dan bergaun biru muda. Sosok itu meluncur mendekati mereka.
Setelah sosok tersebut ada dihadapan mereka, tenggorokan Sika tercekat,
bagamana mungkin sosok tersebut begitu mirip dengan dirinya? Hanya sosok itu
terlihat lebih dewasa. Sosok itu tersenyum. Vinn dan genis heran melihat
wajahnya begitu mirip dengan Sika. Lalu sosok itu menunjuk pada Sika, “akhirnya
kau datang juga cucuku.” Sika mengernyit, “cucu? Nenekku bukannya ada dirumah lagipula
beliau tidak mirip denganku dan dia terlalu muda untuk mempunyai
cucu,”pikirnya. “Kamu siapa?”tanyanya. Sosok itu tersenyum tipis, “aku Sadira,
nenek buyutmu, aku sudah lama menantikan kehadiran kalian,katanya sambil
menoleh ke arah Vinn dan Genis. Kalian sudah ditakdirkan untuk membebaskan kami
para roh yang terkurung oleh sihir hitam Franconia si penyihir kegelapan di
dataran Argarina ini.”jelas Sadira. Tetapi kenapa Franconia mengutung kalian?
Kenapa kami yang ditakdirkan untuk membebaskan kalian? Dan apa tempat ini
sebenarnya?” tanya Vinn bertubi-tubi. Ujung-ujung bibir Sadira melengkung ke
atas membentuk senyum yang tulus, “tempat ini bernama Argarina, suatu kepingan
dimensi tersembunyi yang didiami roh-roh masa lalu, dulunya tempat ini sangat
indah, namun Franconia menlumpuhkan tempat ini agar kekuatannya bertambah dan
kalian adalah empat sekawan yang telah tercatat dalam kitab ramalan Auror yang
akan membebaskan Argarina dari sihir hitam, walaupun salah seorang teman kalian
sedang ditahan oleh Franconia.”jelas Sadira. “Ja..jadi Allan disekap oleh
Franconia? Oh! Kita harus menyelamatkannya!” Seru Genis. “Bagaimana
caranya?”tanya Vinn dan Sika berbarengan. “Dengan ini,”jawab Sadira sembari
memberi masing-masing sebuah bungkusan kepada Vinn, Genis dan Sika. “Itu adalah
jarum Xeroz, lempar jarum ini ke tubuh Fran,”kata Sadira sambil menunjuk
bungkusan ditangan Genis. “Itu mahkota bunga Azurra,”tunjuknya pada bungkusan
Vinn, “dan itu air mata Vicz si kuda terbang, dapat memusnahkan Fran dan
pengaruh sihirnya jika digunakan oleh orang yang tepat,”jelas Sadira pada botol
di tangan Sika. “Terimakasih tante, eh nenek buyutnya Sika!” kata Vinn geli.
“Baiklah, ayo kutunjukan jalan menuju kediaman Fran,” kata Sadira.
Selama dalam perjalanan menuju ke
kediaman Franconia, mereka saling membisu tenggelam dalam pikiran
masing-masing. Akhirnya mereka sampai di depan sebuah kastil kecil yang tampak
menyimpan misteri. “Hm, itu kediaman Fran, kata Sadira, ingat, kelemahan Fran
ada pada sihir hitamnya, jika sihir hitamnya lenyap, Fran juga musnah,”jelas
Sadira. Mereka hanya mengangguk, “baik, hati-hati kalian”. Mereka pun masuk
kedalam kastil tersebut.
Sesampai didalam mereka melihat
banyak bejana emas berisi cairan yang mengeluarkan bau menyengat, mereka juga
melihat tungku raksasa di pojok ruangan. Ketika mereka melihat sebuah sosok
yang mereka curigai sebagai sosok Fran, mereka langsung bersembunyi di balik
almari dekat meja penuh bejana berukuran kecil. “Hahaha! Sudah tak usah berduka
bocah kecil! Terima saja nasibmu sebagai campuran eksperimenku.”terdengar
sebuah suara yang tawanya memekakan telinga. “uh Enak saja! Lihat saja,
sebentar lagi para penyelamatku pasti datang.”terdengar sebuah suara membantah
dengan nada putus asa. Dada Vinn, Sika dan Genis langsung bergemuruh. “Itu
suara Allan!”pekik Vinn tertahan. Tanpa sadar tangannya menyenggol sebuah
bejana hingga jatuh. “Prang!.” “Siapa disitu? Tunjukan rupa kalian!” teriak
Franconia sambil celingukan kesana-kemari. “Ya! Kami disini, penyihir jelek!”
teriak Sika sambil melangkah anggun seperti model iklan sabun, teman-temannya
mengikutinya. “Lepaskan teman kami! Atau kau akan kami rebus!” ancam Vinn
sambil berkacak pinggang.”Hohoho! jadi kalian mengancamku, putri kecil?”ejek
Fran. Allan yang sudah putus asa seketika semangatnya bangkit lagi langsung
berlari ke arah teman-temannya, “Oh! Teman-teman, aku yakin kalian pasti akan
menolongku!”teriaknya terharu. “Tentu, karena kita An Nisan,” sahut Genis
ringan.
Setelah merasa basa-basinya sudah
cukup, Sika langsung memberi aba-aba, “serang!”teriaknya. Genis langsung
melempar jarum-jarum Xeroznya, Fran kaget tetapi ia bisa menghindari serangan
itu. “Hohoho! Hanya itu yang kamu punya bocah kecil?”ejeknya. “Terima ini!”
teriak Fran sambil melempar bola-bola api biru, anggota An Nisan kelabakan
menghindarinya, tetapi mereka selamat hanya ujung blouse Vinn saja yang sedikit
terbakar. Vin tidak tinggal diam, ia melempar mahkota bunga Azurra dengan
bergaya bagai penarai balet. Teman-temannya melongo melihat tingkahnya.
Franconia sendiri juga takjub melihat gerakan gadis berambut kribo itu, karena
lengah mahkota bunga Azurra mengenai dirinya, “aww! Aduh! Kulitku!” jerit Fran
sambil memandang kulitnya yang melepuh. Melihat kesempatan itu Sika langsung menyiram Fran dengan air mata Vicz.
Franconia menjerit kesakitan, ajaibnya tubuh Franconia perlahan-lahan hancur
menjadi abu hitam. Franconia pun mati. Allan yang dari tadi terbengong
menyaksikan pertempuran itu langsung melompat-lompat kegirangan, “hore! Kita
menang! Hidup An Nisan!”. Teman-temannya terlalu capai untuk ikut
melompat-lompat, mereka hanya tersenyum puas. “Eh, kita keluar yuk! Aku gak
betah lama-lama di tempat aneh ini,” celetuk Vinn. Mereka keluar dari kastil
itu.
Sesampai di luar, mereka heran
karena mendapati padang pasir orange itu kini berubah menjadi taman yang sangat indah. Mereka juga melihat
kumpulan roh manusia dengan pakaian yang indah-indah sedang memandangi mereka.
Roh Sadira tampak tersenyum dan melambaikan tangan. Mereka pun mendekat. “Kini
kami telah bebas, Argarina bersemi kembali, kami mengucapkan terimakasih yang
tak terhingga kepada kalian,”kata Sadira tulus. “Ya, kami juga mengucapkan
terimakasih atas bantuanmu, tetapi, bagaimana kami bisa pulang?”tanya Sika.
Kalian bisa lewat portkey yang ada di batang pohon Yggdasrail,”jawab Sadira
sambil menunjuk sebatang pohon raksasa berdaun putih. Kalian ketuk batang pohon
itu tiga kali, maka kalian akan sampai di depan rumah kosong tadi, ingatan
kalian tentang semua yang terjadi di Argarina akan terhapus.”lanjut Sadira.