Senin, 27 Januari 2014

AN NISAN DI ARGARINA

Holla Viviciers ( Vivicious readers maksudnye :) ) 
Kali ini aku mau posting sebuah cerpen ya gaje sih tapi lumayan lah hehe. Ini cerpen sebenernya udah lama nangkring di folder bingung mau diapain jadi aku share aja deh disini..okee selamat menikmati :)

AN NISAN DI ARGARINA
               Pukul 12.30 WIB, waktu istirahat siang di SMA Bhineka Tunggal Ika ( Bhituka ).
              
Sika, Vinn, Genis, dan Allan sedang duduk manis di bangku panjang taman sekolah yang mereka klaim sebagai
markas besar mereka. Ya, mereka memang empat sekawan yang menamai kelompok mereka ”An Nisan” ( bukan batu nisan, bukan pula karena tampang mereka mirip kuburan). Nama tersebut diambil dari nama belakang mereka : Sika, Vinn, Genis, Allan.
               Siang itu keadaan anggota An Nisan sangat memprihatinkan. Betapa tidak...! Sika : sedang duduk tegak sambil hidungnya mencium-cium udara seperti sedang mencium aroma masakan yang maha lezat, Vinn yang berambut kribo dan selalu memaksa teman-temannya untuk memanggilnya “Krines” ( KRIbo bikiN gemEs ) : sedang memain-mainkan rambutnya yang kritis ( kriting abis ) alias kribo, Genis yang badannya seperti rumus persegi panjang ( panjang x lebar ) ya, Genis memang berbadan subur pas dengan namanya GEndut tapi maNIS : sedang melamun sambil memakan lolipop-nya, dan Allan yang satu-satunya anggota laki-laki di An Nisan : sedang mengaca di pecahan cermin mengagumi wajahnya, Allan memang mengaku setampan Sarukhan walau faktanya tampangnya lebih mirip serokan. Hingga akhirnya Sika yang keadaannya kembali normal ( tidak menciun-cium udara lagi ) menyadari tingkah aneh teman-temannya, dia berteriak   “wooo...!!” dengan suara TOA khasnya. Sontak teman-temannya terkejut. “Eh kamu,kalau pengin ikut kontes suara dahsyat jangan disini dong, di hutan Afrika saja sana, biar dimangsa Singa sekalian !” bentak Allan yang kaget hingga kacanya jatuh dan pecah berkeping-keping. “Iya tuh Sika! Ngapain sih teriak-teriak gitu, jantungku terasa hampir melayang tahu !” gerutu Vinn. Sementara teman-temannya menggerutu gak jelas, Sika hanya senyum-senyum dan berkedip-kedip sok manis. “Lha aku kan hanya pengin nyadarin kalian, habis kalian tuh kayak itik penyakitan semua sih,” kata Sika membela diri. “Sudah-sudah, ngapain sih kok malah jadi ribut? Mending nih makan lolipop merk “Lipenliabbe” dijamin deh kalian semua pada ketagihan nikmatnya,” Genis melerai sambil membagikan lolipop pada teman-temannya. “Uh, dasar Mrs. Lolipop, tapi kamu baik juga ya Nis,” kata Allan setengah memuji. “Huh gombal,” gerutu Genis. Allan hanya meringis. Mereka pun menikmati lolipop sambil berdecadecap lebay.
               “Eh teman-teman, besok kan holiday, hang out yuk!,” ajak Sika. “Kemana?” tanya Allan. “Gimana kalau ke TMP Melati saja?” usul Sika. Semua temannya mengerutkan kening kebingungan. “Eh kamu, sejak kapan punya jiwa patriotisme setinggi gunung gitu? Perasaan upacara bendera saja jarang ikut, eh sekarang ngajak ke Taman Makam Pahlawan?” ejek Vinn. “Ih kamusok tahu banget sih ! bukan ke Taman Makam Pahlawan kok, tapi Taman Mandala Pesona,”jelas Sika sambil menggerutu. “Ooo gitu..hehe maaf deh,” ujar Vinn sambil tersenyum seakan tak berdosa. Allan yang merasa tertarik langsung menanggapi, “lho aku kok baru dengar ya kalau ada tempat bernama TMP Melati ? memangnya tempat apaan tuh?“. “Iya, memangnya kamu dapat informasi darimana Ka?” timpal Genis penasaran. “Hohoho..terbukti sekarang, ternyata kalin katro semua ! TMP Melati memang baru saja dibuka guys..! letaknya di Jl. Kamboja No.13, nah, disitu gak hanya berupa taman yang beautipull tapi juga ada kolam renangnya, friends..” Sika menjelaskan dengan gaya sales tukang ngejek. “Lho di jalan Kamboja letaknya? Gak strategis banget sih, tempat sunyi sepi gitu malah dibangun tempat wisata, dekat hutan Aldasair lagi, huh ! gak berjiwa bisnis banget yang punya,”cerocos Allan setengah memprotes. “Iya, memang benar si Allan, tapi aku penasaran dengan tempat itu, sepertinya menarik,” timpal Vinn. “Iya iya..biasanya kan tempat wisata baru suka prosmosi tuh, jadi kayaknya pas buat liburan anak sekolah yang berkantong tipis kayak kita ini,” kata Genis. “Bagaimana kalau besok kita kesana?” usul Sika. “Ok..setuju!” teriak ketiga temannya. Sika tersenyum puas karena usulnya disetujui. “Ya sudah, besok kita kumpul di rumahku jam 08.00 WIT ( Waktu Indonesia Tetap ) ya, yang telat ditinggal saja, gimana? Setuju?”kata Sika. “Yeah setuju lah !” kata yang lainnya kompak. “Tuulalalalilalilalilut !” tiba-tiba terdengar bell berbunyi tanda jam istirahat sudah berakhir. Anggota An Nisan pun berlari sekuat tenaga menuju kelas mereka yang kebetulan sama, kelas X.1.
               Minggu, 13 Februari 2011 pukul 08.00 WIT
                              Mereka pergi ke TMP Melati dengan naik sepeda.Setelah merasa puas refreshing di TMP Melata, mereka berniat pulang. “Eh Krines, pulang yuk, sudah sore nih,” ajak Genis. “ya, kita pulang,”sahut Vinn. “Lewat jalan pintas saja yuk,”ajak Sika. “Maksudmu lewt jalan kecil di pinggir hutan Aldasair?”kata Allan. “Oh, no !” gak deh, aku gak berani lewt situ, angker tahu !”timpal Genis ketakutan. Vinn mendengus kesal, “dasar penakut! Aku setuju lewat situ, bisa menghemat waktu dan tenaga, nah, kalau kau setuju tidak?” tanya Vinn sambil menunjuk Allan. “Aku setuju,”jawab Allan sambil mengangguk-anggukan kepala. “Ok, berdasarkan suara terbanyak, kita lewat jalan pintas,”kata Sika sambil melirik Genis. Mereka akhirnya lewat jalan pintas tersebut meski Genis tampak ogah-ogahan.
               Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun deras, mereka mempercepat laju sepedanya. Tetapi sebuah papan peringatan melintang di tengah jalan. “JALAN BUNTU, WILAYAH BERBAHAYA, SEDANG ADA PERBAIKAN,” demikian bunyi papan tersebut. Mereka heran karena tidak tahu perbaikan apa yang sedang dilakukan. “Lho apa maksudnya nih? Bukannya tidak ada bangunan ya? Kalaupun ada perbaikan kenapa jalan ini sepi banget ya?” kata Allan.”Iya yah, kok aneh banget, gimana nih mau dilanjutkan lewat jalan ini apa kita balik lagi? Tapi sudah kepalang jauh nih,”keluh Sika. “Ya sudah, mending kita lanjut saja deh, benar kan Lan?,”kata Vinn sambil menoleh ke arah Allan. “Ya, benar, kita lanjut,”jawabnya. Mereka pun melanjutkan perjalanannya.
               Mereka terus bersepeda walaupun hujan turun semakin deras. Tak berapa lama, mereka melihat sebuah rumah tua yang kelihatannya sudah ditinggalkan penghuninya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Karena hujan semakin deras, mereka memutuskan untunk berteduh di bawah atap rumah tersebut. “Eh, rumah ini pasti dulunya milik bangsawan ya?” celetuk Vinn. “Ia, aku jadi penasaran seperti apa didalamnnya,” timpal Allan sambil melangkah mendekati pintu rumah, ketika tangannya menyentuh engsel pintu tiba-tiba pintu ambruk ke lantai. Mereka kaget. Allan tampak semakin penasaran, ia mulai memasuki rumah tersebut. “Hei teman-teman ! kalian tunggu saja di luar, jangan ikut masuk !” teriaknya. “Allan ! ngapain kamu kedalam? Cepat keluar! Siapa tahu rumah ini berbahaya!” teriak Genis. Namun teriakannya diabaikan oleh Allan.
               Seperempat jam kemudian
               Karena Allan tidak kunjung keluar-keluar, teman-temannya khawatir. “Hei, Allan! Cepat keluar! Sudah hampir maghrib nih!” teriak Sika dengan suara TOA yang diperbesar 10 kali. Namun tidak ada jawaban dari Allan. “Eh, girls, kita susul Allan kedalam yuk,” ajak Vinn. “Eh, Krines, ngapain sih masuk kedalam, nanti juga dia pasti keluar,”kata Genis ngeri. Tetapi karena didesak oleh rasa khawatir, mereka akhirnya masuk kedalam rumah tersebut.
               Begitu masuk kedalam, atmosfir mencekam langsung menyelimuti mereka. Bau apak, lembap, dan kayu lapuk Namun tetap tak terdengar jawaban. Setelah memeriksa seluruh ruangan tersebut, pandangan mereka membentur ke sebuah pintu berukir yang terlihat lapuk. Tangan Vinn maju untuk membuka pintu tersebut. Klik! Pintu berhasil terbuka, tetapi ruangan didalamnya hanya berupa ruang kosong dan sebuah pintu yang sama dengan pintu tadi. “Huh! Ada pintu lagi nih! Lihat apa yang kita temukan dibalik pintu ini,”kata Sika. Genis hanya tersenyum kecut, sedari tadi perasaannya tidak enak, dia merasakan firasat buruk dan firasatnya tidak pernah meleset!.
               Sika membuka pintu tersebut. Lagi-lagi mereka hanya mendapati ruang kosong dan pintu yang sama. Karena penasaran mereka terus memasuki pintu demi pintu tersebut. Hingga pada pintu kesebelas mereka terkejut setengah mati melihat pemandangan di depannya.
               Ya, dibalik pintu kesebelas itu terdapat sebuah dataran yang sangat luas seperti padang pasir berwarna orange, namun matahari bersinar redup juga terdapat bebatuan berwarna putih mengkilat. Pemandangan itu dirasa sangat ganjil oleh mereka. Bagaimana tidak? Di dalam rumah tua terdapat padang pasir yang tampak kering padahal bukankah tadi hujan lebat?” pikir mereka.
               Kening Vinn berkerut, “Eng, tempat apa nih?”gumamnya bingung. “Mana aku tahu? Sahut Sika, tetapi kita harus menyusuri tempat ini, siapa tahu Allan ada disini,”lanjut Sika tegas. Setelah seratus langkah berjalan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sosok wanita cantik berambut panjang dan bergaun biru muda. Sosok itu meluncur mendekati mereka. Setelah sosok tersebut ada dihadapan mereka, tenggorokan Sika tercekat, bagamana mungkin sosok tersebut begitu mirip dengan dirinya? Hanya sosok itu terlihat lebih dewasa. Sosok itu tersenyum. Vinn dan genis heran melihat wajahnya begitu mirip dengan Sika. Lalu sosok itu menunjuk pada Sika, “akhirnya kau datang juga cucuku.” Sika mengernyit, “cucu? Nenekku bukannya ada dirumah lagipula beliau tidak mirip denganku dan dia terlalu muda untuk mempunyai cucu,”pikirnya. “Kamu siapa?”tanyanya. Sosok itu tersenyum tipis, “aku Sadira, nenek buyutmu, aku sudah lama menantikan kehadiran kalian,katanya sambil menoleh ke arah Vinn dan Genis. Kalian sudah ditakdirkan untuk membebaskan kami para roh yang terkurung oleh sihir hitam Franconia si penyihir kegelapan di dataran Argarina ini.”jelas Sadira. Tetapi kenapa Franconia mengutung kalian? Kenapa kami yang ditakdirkan untuk membebaskan kalian? Dan apa tempat ini sebenarnya?” tanya Vinn bertubi-tubi. Ujung-ujung bibir Sadira melengkung ke atas membentuk senyum yang tulus, “tempat ini bernama Argarina, suatu kepingan dimensi tersembunyi yang didiami roh-roh masa lalu, dulunya tempat ini sangat indah, namun Franconia menlumpuhkan tempat ini agar kekuatannya bertambah dan kalian adalah empat sekawan yang telah tercatat dalam kitab ramalan Auror yang akan membebaskan Argarina dari sihir hitam, walaupun salah seorang teman kalian sedang ditahan oleh Franconia.”jelas Sadira. “Ja..jadi Allan disekap oleh Franconia? Oh! Kita harus menyelamatkannya!” Seru Genis. “Bagaimana caranya?”tanya Vinn dan Sika berbarengan. “Dengan ini,”jawab Sadira sembari memberi masing-masing sebuah bungkusan kepada Vinn, Genis dan Sika. “Itu adalah jarum Xeroz, lempar jarum ini ke tubuh Fran,”kata Sadira sambil menunjuk bungkusan ditangan Genis. “Itu mahkota bunga Azurra,”tunjuknya pada bungkusan Vinn, “dan itu air mata Vicz si kuda terbang, dapat memusnahkan Fran dan pengaruh sihirnya jika digunakan oleh orang yang tepat,”jelas Sadira pada botol di tangan Sika. “Terimakasih tante, eh nenek buyutnya Sika!” kata Vinn geli. “Baiklah, ayo kutunjukan jalan menuju kediaman Fran,” kata Sadira.
               Selama dalam perjalanan menuju ke kediaman Franconia, mereka saling membisu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Akhirnya mereka sampai di depan sebuah kastil kecil yang tampak menyimpan misteri. “Hm, itu kediaman Fran, kata Sadira, ingat, kelemahan Fran ada pada sihir hitamnya, jika sihir hitamnya lenyap, Fran juga musnah,”jelas Sadira. Mereka hanya mengangguk, “baik, hati-hati kalian”. Mereka pun masuk kedalam kastil tersebut.
               Sesampai didalam mereka melihat banyak bejana emas berisi cairan yang mengeluarkan bau menyengat, mereka juga melihat tungku raksasa di pojok ruangan. Ketika mereka melihat sebuah sosok yang mereka curigai sebagai sosok Fran, mereka langsung bersembunyi di balik almari dekat meja penuh bejana berukuran kecil. “Hahaha! Sudah tak usah berduka bocah kecil! Terima saja nasibmu sebagai campuran eksperimenku.”terdengar sebuah suara yang tawanya memekakan telinga. “uh Enak saja! Lihat saja, sebentar lagi para penyelamatku pasti datang.”terdengar sebuah suara membantah dengan nada putus asa. Dada Vinn, Sika dan Genis langsung bergemuruh. “Itu suara Allan!”pekik Vinn tertahan. Tanpa sadar tangannya menyenggol sebuah bejana hingga jatuh. “Prang!.” “Siapa disitu? Tunjukan rupa kalian!” teriak Franconia sambil celingukan kesana-kemari. “Ya! Kami disini, penyihir jelek!” teriak Sika sambil melangkah anggun seperti model iklan sabun, teman-temannya mengikutinya. “Lepaskan teman kami! Atau kau akan kami rebus!” ancam Vinn sambil berkacak pinggang.”Hohoho! jadi kalian mengancamku, putri kecil?”ejek Fran. Allan yang sudah putus asa seketika semangatnya bangkit lagi langsung berlari ke arah teman-temannya, “Oh! Teman-teman, aku yakin kalian pasti akan menolongku!”teriaknya terharu. “Tentu, karena kita An Nisan,” sahut Genis ringan.
               Setelah merasa basa-basinya sudah cukup, Sika langsung memberi aba-aba, “serang!”teriaknya. Genis langsung melempar jarum-jarum Xeroznya, Fran kaget tetapi ia bisa menghindari serangan itu. “Hohoho! Hanya itu yang kamu punya bocah kecil?”ejeknya. “Terima ini!” teriak Fran sambil melempar bola-bola api biru, anggota An Nisan kelabakan menghindarinya, tetapi mereka selamat hanya ujung blouse Vinn saja yang sedikit terbakar. Vin tidak tinggal diam, ia melempar mahkota bunga Azurra dengan bergaya bagai penarai balet. Teman-temannya melongo melihat tingkahnya. Franconia sendiri juga takjub melihat gerakan gadis berambut kribo itu, karena lengah mahkota bunga Azurra mengenai dirinya, “aww! Aduh! Kulitku!” jerit Fran sambil memandang kulitnya yang melepuh. Melihat kesempatan itu Sika  langsung menyiram Fran dengan air mata Vicz. Franconia menjerit kesakitan, ajaibnya tubuh Franconia perlahan-lahan hancur menjadi abu hitam. Franconia pun mati. Allan yang dari tadi terbengong menyaksikan pertempuran itu langsung melompat-lompat kegirangan, “hore! Kita menang! Hidup An Nisan!”. Teman-temannya terlalu capai untuk ikut melompat-lompat, mereka hanya tersenyum puas. “Eh, kita keluar yuk! Aku gak betah lama-lama di tempat aneh ini,” celetuk Vinn. Mereka keluar dari kastil itu.
               Sesampai di luar, mereka heran karena mendapati padang pasir orange itu kini berubah menjadi taman  yang sangat indah. Mereka juga melihat kumpulan roh manusia dengan pakaian yang indah-indah sedang memandangi mereka. Roh Sadira tampak tersenyum dan melambaikan tangan. Mereka pun mendekat. “Kini kami telah bebas, Argarina bersemi kembali, kami mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada kalian,”kata Sadira tulus. “Ya, kami juga mengucapkan terimakasih atas bantuanmu, tetapi, bagaimana kami bisa pulang?”tanya Sika. Kalian bisa lewat portkey yang ada di batang pohon Yggdasrail,”jawab Sadira sambil menunjuk sebatang pohon raksasa berdaun putih. Kalian ketuk batang pohon itu tiga kali, maka kalian akan sampai di depan rumah kosong tadi, ingatan kalian tentang semua yang terjadi di Argarina akan terhapus.”lanjut Sadira.
               Mereka melangkah menuju pohon itu, Allan yang dari tadi bingung karena tidak mengenal Sadira mencolek tangan Genis, “Siapa dia? Kenapa sangat mirip dengan Sika?” tanyanya sambil melirik ke arah Sadira. “Nanti kujelaskan,”katanya cuek. Sebelum mengetuk batang pohon itu Sika menoleh dan menatap Sadira, di hatinya ada rasa haru akan berpisah dengan sang nenek. “Cepat pergilah, orang tua kalian sudah cemas menunggu.” Kata Sadira. Mereka pun mengetuk batang pohon itu tiga kali dan ajaibnya mereka langsung mendapati diri mereka tertidur di depan rumah tua itu. “Eh, kita ketiduran ya,” kata Allan sambil mengucek-ucek mata. “waduh iya nih, kok sudah pagi sih? Haah!! Kita menginap disini semalam,” jerit Vinn kaget. “Ayo pulang,” ajak Sika. Mereka pun pulang tanpa mengingat secuil pun peristiwa di Argarina.