PENDAHULUAN
Selama ini
kebutuhan manusia akan air sangatlah besar. Jika kita melihat dari segi
penggunaan, maka air tidak pernah lepas dari segala aspek kehidupan
manusia.Mulai dari hal kecil, seperti air minum untuk melepas dahaga hingga
kincir air yang dimanfaatkan sebagai penghasil energi listrik. Fungsi air tidak hanya dirasakan secara kasat mata seperti
penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam kehidupan
mikromolekul seperti dalam sel. Air merupakan penyusun sel yang mengisi setiap
bagian sel. Air memiliki sifat-sifat tertentu yang berkaitan dengan fungsi sel.
PEMBAHASAN
Air merupakan senyawa yang paling melimpah
dalam system hidup dan mencakup 70 % atau lebih bobot dari hamper semua bentuk
kehidupan. Organisme hidup pertama diperkirakan muncul daru perairan, jadi air
merupakan “induk” dari kita semua. Kita seringkali menganggap air hanya sebagai
suatu cairan yang tidak reaktif, tidak berasa dan mudah digunakan untuk
berbagai keperluan praktis. Walaupun air bersifat stabil-kimiawi senyawa ini
mempunyai berbagai sifat istimewa. Air dan produk ionisasinya ; ion H+ dan ion
OH- sangat mempengaruhi sifat berbagai komponen penting sel seperti enzim,
protein, asam nukleat dan lipid. Contohnya aktivitas katalik enzim sangat
dipengaruhi oleh konsentrasi ion H+ dan ion OH-. ( Lehninger, 1982 ).
Air memiliki rumus kimia H2O
artinya satu molekul air tersusun
atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen.
Air yang tidak tercemar bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi
standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar)
dan temperatur 273,15 K (0 °C). Air merupakan suatu pelarut yang penting,
sifat air yang polar karena kecenderungannya membentuk ikatan hydrogen maka ia
memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia yang bersifat polar
lainnya seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak
macam molekul organik ( Ball, 2005 ).
Air mempunyai titik lebur, titik didih dan
panas penguapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan hampir semua cairan yang
biasa dijumpai. Titik lebur air terletak pada suhu 0°C, titik didihnya pada
suhu 100°C dan panas penguapan 540 kal/gr ( tabel 1). Sehingga gaya Tarik antar
molekul-molekul air sangat kuat yang memberikan air gaya kohesi yang tinggi.
Hal ini berkaitan dengan struktur molekul air yaitu terdapatnya ikatan
hidrogen. Ikatan hidrogen pada struktur es bersifat tetap yang menyebabkan
tingginya titik cair es. ( Lehninger, 1982 ).
Tabel 1. Titik didih, titik
lebur dan panas penguapan zat-zat
Perubahan suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat
sebagai penyimpan panas yang baik. Sifat ini memungkinkan air tidak menjadi
panas seketika atau dingin seketika. Perubahan suhu yang lambat dapat mencegah terjadinya
stress pada makhluk hidup hal ini disebabkan tingginya kapasitas panas pada air.
Panas penguapan didefinisikan sebagai jumlah panas/energy yang diperlukan untuk
mengubah cairan menjadi gas pada suhu yang sama. Tingginya panas penguapan pada
air memungkinkan binatang untuk menurunkan
suhu tubuh mereka melalui penguapan atau dengan mekanisme berkeringat. Sifat
air yang lain adalah air memiliki viskositas yang rendah sehingga air mudah
mengalir ke seluruh bagian ruang antarsel dalam tubuh binatang. Air juga dapat
didispersikan sebagai senyawa amfipatik. Sifat tersebut memberi peluang kepada
senyawa amfipatik untuk membentuk misel apabila berada dalam air ( Isnaeni,
2006 ).
Air
memiliki tegangan permukaan yang besar yang disebabkan oleh
kuatnya sifat kohesi antar molekul-molekul air. Hal ini dapat diamati saat
sejumlah kecil air ditempatkan dalam sebuah permukaan yang tak dapat terbasahi
atau terlarutkan (non-soluble); air tersebut akan berkumpul sebagai
sebuah tetesan. Di atas sebuah permukaan gelas yang bersih atau bepermukaan halus air dapat membentuk
suatu lapisan
tipis (thin film) karena gaya tarik molekular antara gelas dan
molekul air (gaya adhesi) lebih kuat ketimbang gaya kohesi antar molekul air. Dalam sel-sel biologi dan organel-organel, air bersentuhan dengan
membran dan permukaan protein yang bersifat hidrofilik; yaitu,
permukaan-permukaan yang memiliki ketertarikan kuat terhadap air. Irvin
Langmuir mengamati suatu gaya tolak yang kuat antar permukaan-permukaan
hidrofilik. Untuk melakukan dehidrasi suatu permukaan hidrofilik — dalam arti
melepaskan lapisan yang terikat dengan kuat dari hidrasi air — perlu dilakukan
kerja sungguh-sungguh melawan gaya-gaya ini, yang disebut gaya-gaya hidrasi.
Gaya-gaya tersebut amat besar nilainya akan tetapi meluruh dengan cepat dalam
rentang
nanometer atau lebih kecil. Gaya-gaya ini
penting terutama saat sel-sel terdehidrasi saat bersentuhan langsung dengan
ruang luar yang kering atau pendinginan di luar sel (extracellular freezing) ( Philippa,
1990 ).
Di dalam sel, air terdapat dalam dua
bentuk, dua bentuk itu yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat. Air dalam
bentuk bebas mencakup 95% dari total air di dalam sel. Umumnya air berperan sebagai
pelarut dan sebagai medium dispersi sistem koloid. Air dalam bentuk terikat
mencakup 4-5%dari total air di dalam sel. Kandungan air pada berbagai jenis sel
bervariasi diantara tipe sel yang berbeda karena lingkungan dan perannya. Air
merupakan medium tempat berlangsungnya transpor nutrien, reaksi-reaksi enzimatis
metabolisme sel dan transpor energi kimia. Di dalam sel hidup, kebanyakan
senyawa biokimia dan sebagian besar dari reaksi-reaksinya berlangsung dalam
lingkungan cair ( Shinya, 2007 ).
Air mempunyai tekanan osmosis
yaitu gerakan air melewati membrane semipermiabel dari daerah zat terlarut
berkonsentrasi rendah ke daerah berkonsentrasi tinggi. Adanya tekanan osmosis
ini menyebabkan zat yang terlarut ( solute ) dapat larut sehingga mencapai
titik ekuilibrium pada kedua larutan. Air juga dapat melakukan filtrasi
sehingga air beserta oksigen, nutrient, glukosa dan solute lainnya dapat keluar
dari intravaskuler masuk ke interstitial lalu ke sel ( Asmadi, 2008 )
PENUTUP
Dari uraian di atas maka dapat diketahui bahwa air merupakan
komponen sel yang dominan dan berfungsi untuk :
1. Pelarut berbagai zat
organik dan anorganik, misalnya berbagai jenis ion-ion, glukosa, sukrosa,
asamamino, serta berbagai jenis vitamin.
2. Bahan pengsuspensi zat-zat organik dengan molekul besar seperti
protein, lemak, dan pati. Dalam hal tersebut, air merupakan medium dispersi
dari sistem koloid protoplasma.
3. Air merupakan media transpor berbagai zat yang terlarut atau yang
tersuspensi untuk berdifusi atau bergerak dari suatu bagian sel ke bagian sel
yang lain.
4. Air merupakan media berbagai proses reaksi-reaksi enzimatis yang berlangsung di dalam sel.
5. Air digunakan untuk mengabsorbsi panas dan mencegah perubahan temperatur yang drastis
ataumendadak di dalam sel.
6. Air sebagai bahan baku untuk reaksi hidrolisis dan sintesis
karbohidat . misal dalam fotosintesis (Lehninger, 1988).
DAFTAR PUSTAKA
Thenawijaya, Maggy dalam Lehninger, Albert. 1982. Dasar-dasar
biokimia. Erlangga. Jakarta, hal.77-101.
Wiggins, M. Philippa. 1990. Role of Water in Some Biological
Processes. Microbiological Reviews, 54 ( 4 ) :
432-449.
Isnaeni, Wiwi.
2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Yogyakarta, hal. 46-49.
Shinya, Hiromi. 2007. The miracle of enzyme : self-healing
program. Council Oak Books.
Oklahoma, p. 182.
Asmadi. 2008. Teknik
procedural keperawatan : konsep dan aplikasi kebutihan
dasar klien. Penerbit Salemba Medika. Jakarta, hal. 53.
Sumber tabel :
Tabel
1 : Thenawijaya, Maggy dalam Lehninger, Albert.
1982. Dasar-dasar biokimia. Erlangga. Jakarta, hal.77.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar